Wednesday, October 20, 2004

Sebentuk ego bernama AKU.

This is it.

Saat di mana aku sebagai individu harus bisa menyalahkan diriku sendiri atas segala hal, betul kan? Ya.. itu menurutku.

Sebenernya segala sesuatu berjalan baik2 saja kan? Ini hanya sebuah fase kehidupan yang harus aku jalanin kan? Seperti layaknya fase2 kehidupan yang pernah aku jalanin kan? Hidupku yang dulu, yang juga penuh beban yang cukup berat - at least untukku.
Oleh karena itu, aku rasa ini bukan yang terberat bagiku. Aku sudah mengalami hal ini - mungkin berkali-kali tanpa disadari - di masa lalu.

Kalau dari dulu aku bisa mengatasi semuanya sendirian, kenapa sekarang enggak? Kenapa sekarang aku harus bergantung pada orang lain yang [kurasa saat ini] keberadaannya kurang jelas bagiku? Kenapa aku menyia-nyiakan waktuku untuk nangis atau marah atau bete? Kenapa aku tidak kembali saja jadi diriku yang dulu... yang super independent dan super cuek? It'll be great, maybe.

Karena pada saat itu aku masih belum tau apa arti Kebersamaan. atau Tertawa bahagia tanpa beban. atau Bolos sekolah. atau Kabur dan memberontak. atau Berebut cowok. atau Ngebut. atau Mengejar bintang sampai pagi hari. atau Berlari dari Tuhan. atau Dugem. atau Bermain salju. atau Bekerja sampai malam. atau Deadline stress. atau Dipeluk dengan penuh sayang...

Saat ini aku begitu ingin kembali ke masa lalu. Dan menghilangkan semua memoar2ku? HAH... ga bisa! Setiap esensi dan gejolak emosi dari kejadian yang kujalani sendiri udah terlalu tertanam di otakku yang kata orang2, encer. Otakku yang encer itu ga mau begitu saja menghapus semuanya. Dan karena otak itu sang komandan dari segalanya [walaupun katanya hati juga bisa jadi komandan!] jadilah aku menuruti perintahnya. Lagian, aku sudah terlanjur merasakan semuanya dan setiap esensinya sudah meresap sampai nadi dan manghangatkan hati [hatipun mengambil peran dalam pemberontakkanku atas diriku ini]. Lalu sekarang aku bisa apa?

AKU, after these last few years, mungkin sudah terlalu terbiasa punya orang2 disekitarku tempat bercerita dan mengadu. Jadi saat aku harus kembali ke kesendirianku saat ini, aku kalut. Aku bingung tak tau arah, dan memang itu keadaanku sekarang. Sebentuk Ego superbesar [hanya memikirkan kesulitan2ku sendiri] yang nyatanya sangat weak dan rapuh.

Jadi mungkin saat ini aku harus menempatkan diri di tempat lain. Mulai dari nol, atau bagaimana?

Buat temen2 and buatku juga, there's song from Monalisa Smile [a great movie, i just love it] sung by Barbara Streisand:

smile, though your heart is aching/ smile, even though it's breaking/
when there are clouds in the sky/ you'll get by if you smile
through your fear and sorrow/ smile, and there'll be tommorow
you'll see the sun comes shinning through for you

light up your face with gladness/ hide every trace of sadness
although your tear will be ever so near/ that's the time you must keep on trying
smile, what's the use of crying?/ you'll find the life is still worthwhile
if you just smile

Labels: , ,

3 Comments:

Blogger b.e.x.i.s.h said...

but what if that smile is just another coverage of your exhausted heart? can you even differentiate the TRUE smiles from the fake ones? do you think that by keep smiling everything will be alright? puuuff.. what a life..

--> the lost & confused me <--

8:19 am  
Blogger siethology said...

nothing is clear... vague as thick fog... but every time you shed your tears... please believe that I shed mine too...

9:04 am  
Blogger val said...

thanks for being here.
closest peps to my heart.

8:48 am  

Post a Comment

<< Home